Ekosistem Mangrove di Indonesia

1. DEFINISI EKOSISTEM MANGROVE
Hutan mangrove adalah sebutan untuk sekelompok tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut pantai. Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen, atau juga hutan payau. Kita sering menyebut hutan di pinggir pantai tersebut sebagai hutan bakau. Sebenarnya, hutan tersebut lebih tepat dinamakan hutan mangrove. Istilah ‘mangrove’ digunakan sebagai pengganti istilah bakau untuk menghindarkan kemungkinan salah pengertian dengan hutan yang terdiri atas pohon bakau Rhizophora spp. Karena bukan hanya pohon bakau yang tumbuh di sana. Selain bakau, terdapat banyak jenis tumbuhan lain yang hidup di dalamnya.

2. CIRI-CIRI EKOSISTEM MANGROVE
Ciri-ciri terpenting dari penampakan hutan mangrove, terlepas dari habitatnya yang unik, adalah :
• memiliki jenis pohon yang relatif sedikit;
• memiliki akar tidak beraturan (pneumatofora) misalnya seperti jangkar melengkung dan menjulang pada bakau Rhizophora spp., serta akar yang mencuat vertikal seperti pensil pada pidada Sonneratia spp. dan pada api-api Avicennia spp.;
• memiliki biji (propagul) yang bersifat vivipar atau dapat berkecambah di pohonnya, khususnya pada Rhizophora;
• memiliki banyak lentisel pada bagian kulit pohon.
Sedangkan tempat hidup hutan mangrove merupakan habitat yang unik dan memiliki ciri-ciri khusus, diantaranya adalah :
• tanahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari atau hanya tergenang pada saat pasang pertama;
• tempat tersebut menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat;
• daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat;
• airnya berkadar garam (bersalinitas) payau (2 – 22 o/oo) hingga asin.
3. PENYEBARAN MANGROVE
Berbagai laporan dan publikasi ilmiah menunjukkan bahwa hutan mangrove ditemukan hampir disetiap propinsi di Indonesia. Walaupun di daerah pantai Propinsi D.I. Yogyakarta dilaporkan beberapa jenis vegetasi mangrove tumbuh, namun mungkin karena luasan yang kecil atau karena tidak membentuk tegakan yang kompak sehingga tidak dikategorikan sebagai hutan, maka luasan hutan mangrove di Propinsi D.I. Yogyakarta tersebut sampai saat ini belum dilaporkan. Meskipun secara umum lokasi mangrove diketahui, namun terdapat variasi yang nyata dari luas total hutan mangrove Indonesia, yakni berkisar antara 2,5 juta – 4,25 juta ha. Beranjak dari perkiraan luas hutan mangrove yang berstatus kawasan hutan di Indonesia pada tahun 1993 seluas 3.765.250 ha, total luas areal berhutan mangrove berkurang sekitar 1,3 % dalam kurun waktu 6 tahun (1993 sampai 1999). Angka penurunan luas hutan mangrove dalam kurun waktu antara tahun 1993 – 1999 ini jauh lebih kecil dibandingkan dalam kurun waktu 1982 – 1983. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan Kusmana (1995) diketahui bahwa dalam kurun waktu antara tahun 1982 – 1993 (11 tahun), luas hutan mangrove turun sebesar 11,3 % (4,25 juta ha pada tahun 1982 menjadi 3,7 juta ha pada tahun 1993) atau 1 % per tahun.
Ditjen RLPS, Departemen Kehutanan pada tahun 1999/2000 menginformasikan bahwa potensi mangrove di Indonesia adalah 9,2 juta ha, dan 5,3 juta ha di antaranya atau sekitar 57,6 % dari luas hutan mangrove di Indonesia dalam kondisi rusak, dimana sebagian besar, yakni sekitar 69,8 % atau 3,7 juta ha terdapat di luar kawasan hutan dan sisanya sekitar 30,2 % atau 1,6 juta ha terdapat di dalam kawasan hutan. Sedangkan rehabilitasi hutan mangrove melalui pembangunan plot-plot percontohan penanaman mangrove yang sudah dilaksanakan oleh Ditjen RLPS sampai tahun 2001 hanya sekitar 21.130 ha.
4. CIRI-CIRI FISIK YANG PENTING HABITAT HUTAN MANGROVE
Hutan mangrove mempunyai tajuk yang rata dan rapat serta memiliki jenis pohon yang selalu berdaun. Keadaan lingkungan di mana hutan mangrove tumbuh, mempunyai faktor-faktor yang ekstrim seperti salinitas air tanah dan tanahnya tergenang air terus menerus. Meskipun mangrove toleran terhadap tanah bergaram (halophytes), namun mangrove lebih bersifat facultative daripada bersifat obligative karena dapat tumbuh dengan baik di air tawar. Hal ini terlihat pada jenis Bruguiera sexangula, Bruguiera gymnorrhiza, dan Sonneratia caseolaris yang tumbuh, berbuah dan berkecambah di Kebun Raya Bogor dan hadirnya mangrove di sepanjang tepian sungai Kapuas, sampai ke pedalaman sejauh lebih 200 km, di Kalimantan Barat. Mangrove juga berbeda dari hutan darat, dalam hal ini jenis-jenis mangrove tertentu tumbuh menggerombol di tempat yang sangat luas. Disamping Rhizophora spp., jenis penyusun utama mangrove lainnya dapat tumbuh secara “coppice”. Asosiasi hutan mangrove selain terdiri dari sejumlah jenis yang toleran terhadap air asin dan lingkungan lumpur, bahkan juga dapat berasosiasi dengan hutan air payau di bagian hulunya yang hampir seluruhnya terdiri atas tegakan nipah Nypa fruticans.
5. FLORA MANGROVE
Flora mangrove terdiri atas pohon, epipit, liana, alga, bakteri dan fungi. Menurut Hutching dan Saenger (1987) telah diketahui lebih dari 20 famili flora mangrove dunia yang terdiri dari 30 genus dan lebih kurang 80 spesies. Sedangkan jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan di hutan mangrove Indonesia adalah sekitar 89 jenis, yang terdiri atas 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit dan 2 jenis parasit (Soemodihardjo et al, 1993).
Tomlinson (1986) membagi flora mangrove menjadi tiga kelompok, yakni :
1. Flora mangrove mayor (flora mangrove sebenarnya), yakni flora yang menunjukkan kesetiaan terhadap habitat mangrove, berkemampuan membentuk tegakan murni dan secara dominan mencirikan struktur komunitas, secara morfologi mempunyai bentuk-bentuk adaptif khusus (bentuk akar dan viviparitas) terhadap lingkungan mangrove, dan mempunyai mekanisme fisiologis dalam mengontrol garam. Contohnya adalah Avicennia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Kandelia, Sonneratia, Lumnitzera, Laguncularia dan Nypa.
2. Flora mangrove minor, yakni flora mangrove yang tidak mampu membentuk tegakan murni, sehingga secara morfologis tidak berperan dominan dalam struktur komunitas, contoh : Excoecaria, Xylocarpus, Heritiera, Aegiceras. Aegialitis, Acrostichum, Camptostemon, Scyphiphora, Pemphis, Osbornia dan Pelliciera.

3. Asosiasi mangrove, contohnya adalah Cerbera, Acanthus, Derris, Hibiscus, Calamus, dan lain-lain.

Flora mangrove umumnya di lapangan tumbuh membentuk zonasi mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman daratan. Zonasi di hutan mangrove mencerminkan tanggapan ekofisiologis tumbuhan mangrove terhadap gradasi lingkungan. Zonasi yang terbentuk bisa berupa zonasi yang sederhana (satu zonasi, zonasi campuran) dan zonasi yang kompleks (beberapa zonasi) tergantung pada kondisi lingkungan mangrove yang bersangkutan. Beberapa faktor lingkungan yang penting dalam mengontrol zonasi adalah :
• Pasang surut yang secara tidak langsung mengontrol dalamnya muka air (water table) dan salinitas air dan tanah. Secara langsung arus pasang surut dapat menyebabkan kerusakan terhadap anakan.
• Tipe tanah yang secara tidak langsung menentukan tingkat aerasi tanah, tingginya muka air dan drainase.
• Kadar garam tanah dan air yang berkaitan dengan toleransi spesies terhadap kadar garam.
• Cahaya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan anakan dari species intoleran seperti Rhizophora, Avicennia dan Sonneratia.
• Pasokan dan aliran air tawar
6. FAUNA MANGROVE
Ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai fauna, baik fauna khas mangrove maupun fauna yang berasosiasi dengan mangrove. Berbagai fauna tersebut menjadikan mangrove sebagai tempat tinggal, mencari makan, bermain atau tempat berkembang biak.

Penelitian mengenai fauna mangrove di Indonesia masih terbatas, baik di bidang kajiannya maupun lokasinya. Sampai saat ini, beberapa hasil penelitian yang telah dipublikasikan mengenai fauna yang berasosiasi khusus dengan hutan mangrove mengambil lokasi di Pulau Jawa (Teluk Jakarta, Tanjung Karawang, Segara Anakan – Cilacap, Segara Anak – Jawa Timur, Pulau Rambut, Sulawesi (Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, Ambon, Sumatera (Lampung, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara), dan Kalimantan Barat.
Fauna mangrove hampir mewakili semua phylum, meliputi protozoa sederhana sampai burung, reptilia dan mamalia. Secara garis besar fauna mangrove dapat dibedakan atas fauna darat (terrestrial), fauna air tawar dan fauna laut. Fauna darat, misalnya kera ekor panjang (Macaca spp.), Biawak (Varanus salvator), berbagai jenis burung, dan lain-lain. Sedangkan fauna laut didominasi oleh Mollusca dan Crustaceae. Golongan Mollusca umunya didominasi oleh Gastropoda, sedangkan golongan Crustaceae didominasi oleh Bracyura. Para peneliti melaporkan bahwa fauna laut tersebut merupakan komponen utama fauna hutan mangrove.
7. MANFAAT DAN FUNGSI MANGROVE
Secara Fisik
• Penahan abrasi pantai.
• Penahan intrusi (peresapan) air laut.
• Penahan angin.
• Menurunkan kandungan gas karbon dioksida (CO2) di udara, dan bahan-bahan pencemar di perairan rawa pantai.
Secara Biologi
• Tempat hidup (berlindung, mencari makan, pemijahan dan asuhan) biota laut seperti ikan dan udang).
• Sumber bahan organik sebagai sumber pakan konsumen pertama (pakan cacing, kepiting dan golongan kerang/keong), yang selanjutnya menjadi sumber makanan bagi konsumen di atasnya dalam siklus rantai makanan dalam suatu ekosistem.
• Tempat hidup berbagai satwa liar, seperti monyet, buaya muara, biawak dan burung.
Secara Sosial Ekonomi
• Tempat kegiatan wisata alam (rekreasi, pendidikan dan penelitian).
• Penghasil kayu untuk kayu bangunan, kayu bakar, arang dan bahan baku kertas, serta daun nipah untuk pembuatan atap rumah.
• Penghasil tannin untuk pembuatan tinta, plastik, lem, pengawet net dan penyamakan kulit.
• Penghasil bahan pangan (ikan/udang/kepiting, dan gula nira nipah), dan obat-obatan (daun Bruguiera sexangula untuk obat penghambat tumor, Ceriops tagal dan Xylocarpus mollucensis untuk obat sakit gigi, dan lain-lain).
• Tempat sumber mata pencaharian masyarakat nelayan tangkap dan petambak., dan pengrajin atap dan gula nipah.
8. UPAYA PELESTARIAN MANGROVE
Bentuk tekanan terhadap kawasan mangrove yang paling besar adalah pengalih-fungsian (konversi) lahan mangrove menjadi tambak udang/ikan, sekaligus pemanfaatan kayunya untuk diperdagangkan. Selain itu, juga tumbuhnya berbagai konflik akibat berbagai kepentingan antar lintas instansi sektoral maupun antar lintas wilayah administratif.
Secara ideal, pemanfaatan kawasan mangrove harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat tetapi tidak sampai mengakibatkan kerusakan terhadap keberadaan mangrove. Selain itu, yang menjadi pertimbangan paling mendasar adalah pengembangan kegiatan yang menguntungkan bagi masyarakat dengan tetap mempertimbangkan kelestarian fungsi mangrove secara ekologis (fisik-kimia dan biologis). Perlu juga mengembangkan matapencaharian alternatif bagi masyarakat sekitar mangrove dengan mengandalkan bahan baku non-kayu dan diversifikasi bahan baku industri kehutanan dan arang seperti yang terjadi di Nipah Panjang, Batu Ampar, Pontianak. Masyarakat merubah pola konsumsi bahan bakar dari minyak tanah dan arang bakau menjadi arang leban dan tempurung kelapa dan menggunakan tungku hemat energi atau anglo.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI LAUT MODUL IV

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI LAUT
MODUL IV
UJI SENSITIFITAS DAN PENGHITUNGAN JUMBLAH BAKTERI

Disusun oleh :
Yanuar Yogha Pradana
K2D009053
Kelompok 6
Asisten :
Rainer P. P.
K2D007068

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2010

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada ilmu mikrobiologi ini kita mempelajari banyak tentang jasad-jasad renik yg disebut juga dengan microbe atau protista, di mana adanya, cirri-cirinya, kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok organisme lainnya, peng dan peranannya dalam kesehatan serta kesejahteraan kita. Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita, beberapa di antaranya bermanfaat dan yang lain merugikan. Banyak di antaranya menjadi penghuni dalam tubuh manusia. Beberapa mikroorganisme menyebabkan penyakit dan yang lain terlibat dalam kegiatan manusia sehari-hari seperti misalnya pembuatan anggur, keju, yogurt, produksi penicillin, serta proses-proses perlakuan yang berkaitan dengan pembuangan limbah. (Jawetz, 1991)
Pada uji sensitivitas bakteri terhadap antibiotic dan penghitungan jumlah mikroba. Maksud dari penggunaan antibiotic pada praktikum ini adalah untuk mengetahui seberapa resisten suatu bakteri terhadap antibiotic. Sedangkan penghitungan mikroba dilakukan untuk mengetahui beberapa proses-proses yang terjadi pada bakteri yang telah d inokulasi. (Gaman, 1992)
Perhitungan jumlah suatu bakteri dapat melalui berbagai macam uji seperti uji kualitatif koliform yang secara lengkap terdiri dari tiga tahap yaitu uji penduga (uji kuantitatif, bisa dengan metode MPN), uji penguat dan uji pelengkap. Waktu, mutu sampel, biaya, tujuan analisis merupakan beberapa faktor penentu dalam uji kualitatif koliform. Bakteri koliform dapat dihitung dengan menggunakan metode cawan petri (metode perhitungan secara tidak langsung yang didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan berkembang menjadi satu koloni yang merupakan suatu indeks bagi jumlah organisme yang dapat hidup yang terdapat pada sampel) seperti yang dilakukan pada percobaan ini. (Gaman, 1992)

1.2 Tujuan
• Praktikan memahami bermacam-macam teknik uji sensitivitas.
• Praktikan mempunyai ketrampilan melakukan uji sensitivitas.
• Praktikan memahami berbagai macam metode perhitungan jumlah mikroba
• Praktikan mempunyai ketrampilan untuk melakukan perhitungan jumlah mikroba dalam suatu contoh bahan menggunakan metode perhitungan secara langsung maupun tidak langsung.

1.3 Manfaat
Setelah melaksanakan praktikum modul ini, maka praktikan dapat melakukan tujuan praktikum dengan baik. Sehingga praktikan telah memperoleh bekal untuk penelitian mereka tentang mikroorganisme. Praktikan dapat mengetahui tingkat resistensi suatu bakteri terhadap antibiotic. Dengan mengetahui tingkat resistensi suatu bakteri terhadap antibiotic, hal ini dapat bermanfaat dalam bidang kesehatan atau kedokteran. Praktikan juga dapat melakukan penghitungan jumlah mikroba yang mana ini adalah nilai positif yang praktikan dapat dari praktikum ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uji Sensitiftas
Sensitifitas menyatakan bahwa uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri. Metode Uji sensitivitas bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah. uji sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri. Seorang ilmuan dari perancis menyatakan bahwa metode difusi agar dari prosedur Kirby-Bauer, sering digunakan untuk mengetahui sensitivitas bakteri. Prinsip dari metode ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar cakram kertas yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif. (Koeswartono, 1982).
Pada umumnya metode yang dipergunakan dalam uji sensitivitas bakteri adalah metode Difusi Agar yaitu dengan cara mengamati daya hambat pertumbuhan mikroorganisme oleh ekstrak yang diketahui dari daerah di sekitar kertas cakram (paper disk) yang tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme. Zona hambatan pertumbuhan inilah yang menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap bahan anti bakteri . (Dwidjoseputro, 1998)
Tujuan dari proses uji sensisitivitas ini ialah :
1. Untuk mengetahui obat-obat yang paling cocok (paling poten) untuk kuman penyebab penyakit terutama pada kasus-kasus penyakit yang kronis.
2. Mengetahui adanya resistensi terhadap berbagai macam antibiotik.
Penyebab kuman resisten terhadap antibiotik :
1. Memang kuman tersebut resisten terhadap antibiotik yang diberikan.
2. Akibat pemberian dosis dibawah dosis pengobatan.
3. Akibat penghentian obat sebelum kuman tersebut betul-betul terbunuh oleh antibiotik.
Pada pemeriksaan Sensitivitas dapat dikerjakan antara lain :
a) Dilusi cair / Dilusi Padat Prinsipnya : antibiotik diencerkan hingga diperoleh beberapa konsentrasi. Pada dilusi cair masing-masing konsentrasi obat ditambah suspensi kuman dalam media. Pada Dilusi padat pada tiap konsentrasi obat dicampur dengan media agar lalu ditanami kuman.
b) Difusi Media : Agar Mueller Hinton. Pada metode ini ada beberapa cara :
 Cara Kirby Bauer
1. Diambil beberapa koloni kuman dari pertumbuhan 24 jam pada agar. Disuspensikan dalam 0,5 ml BHI cair kemudian diinkubasi selama 5-8 jam pada 37 C.
2. Suspensi diatas ditambah aquades steril hingga kekeruhan tertentu sesuai dengan standar konsentrasi kuman 108 CFU per ml.
3. Kapas lidi steril dicelupkan kedalam suspensi kuman, lalu ditekan-tekan pada dinding tabung hingga kapas tidak terlalu basah. Kemudian dioleskan pada permukaan media hingga merata.
4. Diletakkan Disk (cakram kertas saring) yang mengandung antibiotik diatasnya inkubasi 37 C selama 19-24 jam.
Pembacaan Hasil :
 Zone Radikal : suatu daerah disekitar disk dimana sama sekali tidak diketemukan adanya pertumbuhan bakteri. Potensi antibiotik diukur dengan mengukur diameter ari zone radikal.
 Zone Irradikal : suatu daerah disekitar disk menunjukkan pertumbuhan bakteri dihambat oleh antibiotik tersebut, tetapi tidak dimatikan. Disini terlihat adanya pertumbuhan yang kurang subur dibandingkan dengan daerah luar pengaruh antibiotik tersebut.
 Cara Sumuran , b, c sama dengan cara Kirby Bauer.
d. Pada agar tersebut dibuat sumuran dengan garis tengah tertentu sesuai dengan kebutuhan. Kedalam sumuran diteteskan larutan antibiotik yang digunakan, inkubasi 37O C selama 18-24 jam. Pembacaan sama seperti diatas.
 Cara Pour Plate , b sama dengan cara Kirby Bauer.
c. Dengan menggunakan ose khusus, ambillah satu mata ose dan masukkan dalam 4 ml agar Base 1,5 % yang mempunyai temperatur 50 C.
d. Setelah suspensi kuman dibuat homogen, tuang pada media Mueller Hinton agar.
e. Tunggulah sementara sampai agar membeku, letakkan disk antibiotik.
f. Inkubasi 15-20 jam pada temperatur 37 C.
g. Dibaca sesuai standart masing-masing antibiotik.
Catatan :
- Perbenihan Agar Mueller Hinton tanpa suplemen atau Agar DST Oxoid.
- Untuk Streptococcus / kuman lain yang memerlukan darah dapat ditambahkan 5 % darah kambing, kuda, sapi, atau kelinci tanpa fibrin.
- Ketebalan agar ± 4 mm dipergunakan dalam 4 hari.
- Biakan kuman yang akan diperiksa dibuat dengan menanamkan 5 koloni kuman dalam 4 ml perbenihan cair (mis : TSB).
Faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran diameter zone hambatan :
a) Kekeruhan suspensi bakteri.
- Kurang keruh : diameter zone lebih lebar.
- Lebih keruh : Diameter zone makin sempit sehingga R dilaporkan S atau sebaliknya.
b) Waktu pengeringan / peresapan suspensi bakteri ke dalam MH agar. idak boleh melebihi batas waktu karena dapat mempersempit diameter zone hambatan sehingga jadi R.
c) Temperatur inkubasi
- Pertumbuhan optimal : 35 C bila 35O C ada bakteri yang kurang subur pertumbuhannya dan ada obat yang difusinya kurang baik.
d) Waktu inkubasi.
- Waktu : 16 – 18 jam
- Bila Lebih 18 jam maka pertumbuhan lebih sempurna sehingga zone hambat makin sempit.
e) Ketebalan agar
Ketebalan : 4 mm, bila kurang maka difusi obat lebih cepat dan bila lebih maka difusi obat lambat.
f) Jarak antar disk obat
- Jarak cakram : 3 cm dan 2 cm dari pinggir petridish dengan meter 9-10m paling banyak 7 disk obat.
- Petridish dengan diameter 15 cm untuk 9 disk.
g) Potensi disk obat
Tiap jenis obat mempunyai diameter disk yang sama tetapi potensinya berbeda. Yang harus diperhatikan :
- Cara penyimpanan : obat yang labil seperti penisillin dll disimpan pada suhu 4O C.
- ED nya dan setiap disk obat baru diterima harus dicek dengan kontrol strain.
h) Komposisi media
Sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan bakteri, difusi obat, kativitas obat tersebut.
Quality Control :
- Upaya-upaya yang dilakukan untuk menetralisir faktor-faktor yang berpengaruh terhadap diameter zone hambatan.
- Mengecek mutu media, disk obat dengan menggunakan bakteri standard :
Staphylococcus aureus ATCC 25923, E. Coli ATCC 25922, Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853

2.2 Peghitungan Jumlah Mikrobia
a. Metode Hitungan Cawan
Prinsip dalam metode hitungan cawan adalah jika sel jasad renik yang masih hidup situmbuhkan pada medium agar, maka jasad sel renik tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dihitung dengan mata telanjang.
Metode hitungan cawan merupakan cara yang paling sensitive untuk menentukan jumlah jasad renik karena beberapa hal:
1. hanya sel yang masih hidup yang dapat dihitung,
2. Beberapa jasad renik dapat dihitung sekaligus
3. Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi jasad renik karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari suatu jasad renik yang mempunyai penampakan pertumbuhan spesifik. (Fardiaz, 1989)
Selain keuntungan-keuntungan tersebut, metode hitungan cawan juga mempunyai kelemahan-kelemahan sebagai berikut :
1. Hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya, karena beberapa sel yang berdekatan mungkin membentuk suatu koloni
2. Medium dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda
3. Jasad renik yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang kompak dan jelas, tidak menyebar
4. Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi relatif lama sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung. (Fardiaz, 1989)
Dalam metode hitungan cawan, bahan pangan yang diperkirakan mengandung lebih dari 300 sel jasad renik per ml atau per gram atau per cm (jika pengambilan contoh dilakukan pada permukaan), memerlukan perlakuan pengenceran sebelum ditumbuhkan pada medium agar di dalam cawan petri. Setelah inkubasi akan terbentuk koloni pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung, dimana jumlah yang terbaik adalah diantara 30 – 300 koloni. Pengenceran biasanya dilakukan secara desimal yaitu ; 1:10, 1:100, 1:1000 dan seterusnya, atau 1:100, 1:10 000, 1:1000 000 dan seterusnya. Larutan yang dibuat untuk pengenceran dapat berupa larutan buffer fosfat, 0,85% NaCl, atau larutan Ringer.cara pemupukan dalam metode hitungan cawan dapat dibedakan atas dua cara yaitu metode tuang (pour plate) dan metode permukaan (surface/spread plate), sejumlah contoh (1ml atau 0,1 ml) dari pengenceran yang dikehendaki dimasukkan kedalam cawan petri, kemudian ditambah agar cair steril yang telah didinginkan (47-50o C) sebanyak 15-20 ml dan digoyangkan supaya contoh menyebar rata. Pada pemupukan dengan metode permukaan, terlebih dahulu dibuat agar cawan kemudian sebanyak 0,1 ml contoh yang telah diencerkan dipipet pada permukaan agar tersebu, dan diratakan dengan batang gelas melengkung yang steril. (Fardiaz, 1989)
b. Metode MPN (Most Probable Number)
Pada metode ini digunakan medium cair dalam tabung reaksi, dimana perhitungan dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu yang ditumbuhi oleh jasad renik setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan, atau terbentuknya gas didalam tabung kecil (tabung Durham) yang diletakkan pada posisi terbalik, yaitu untuk jasad renik pembentuk gas. Untuk setiap pengenceran pada umumnya digunakan tiga atau lima seri tabung. Lebih banyak tabung yang digunakan menunjukkan ketelitian yang lebih tinggi, tetapi alat gelas yang digunakan juga lebih banyak. (Fardiaz, 1989)
Dalam metode MPN, pengenceran harus dilakukan lebih tinggi dari pada pengenceran dalam hitungan cawan, sehingga beberapa tabung berisi medium cair yang diinokulasikan dengan larutan hasil pengenceran tersebut mengandung lebih dari satu sel, sedangkan tabung lainnya tidak mengandung sel . (Fardiaz, 1989)
Metode MPN biasanya digunakan untuk menghitung jumlah jasad renik didalam contoh yang berbentuk cair. Meskipun dapat pula digunakan untuk contoh berbentuk padatan dengan terlebih dahulu membuat suspensi 1:10 dari contoh tersebut. Dari setiap pengenceran dimasukkan 1ml masing-masing kedalam tabung yang berisi medium, dimana untuk setiap pengenceran digunakan tiga seri tabung atau lima seri tabung. Setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu, dihitung jumlah tabung yang positif, misalkan pada pengenceran yang pertama ketiga tabung positif dan pada pengenceran yang kedua terdapat dua tabung yang positif, pada pengenceran yang ketiga didapatkan 1 tabung yang positif dan padapengenceran yang ke empat tidak didapatkan tabung yang positif, maka kombinasinyamenjadi 3,2,1,0 dan jika diambil tiga pengenceran yang pertama kombinasinya menjadi 3,2,1 Angka kombinasi ini kemudian dicocokkan dengan table MPN dan nilai MPN dapat dihitung dengan rumus:
1
MPN contoh = Nilai MPN tabel X
Pengenceran tabung tengah

Tabel yang digunakan untuk menentukan nilai MPN dari tiga seri tabung berbeda dengan tabel lima seri tabung. Kombinasi yang dipilih mulai dari pengenceran tertinggi yagn masih menghasilkan semua tabung positif, sedangakan pada pengenceran yang berikutnya ada tabung yang negatif. Kombinasi yang diambil terdiri dari tiga pengenceran. Jika pada pengenceran yang keempat atau seterusnya masih diketemukan tabung yang hasilnya positif, maka jumlah tabung yang positif tersebut harus ditambahkan pada angka kombinasi yang ketiga sampai mencapai jumlah maksimum. (Fardiaz, 1989)
sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri. Lay (1994) menyatakan bahwa metode difusi agar dari prosedur Kirby-Bauer, sering digunakan untuk mengetahui sensitivitas bakteri. Prinsip dari metode ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar cakram kertas yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri (Koeswartono, 1982). Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif.

BAB III
MATERI METODA

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
3.1.1 Waktu
Jam : Pukul 15.30 WIB – selesai
Hari : Selasa
Tanggal :30 November 2010
3.1.2 Tempat
Laboratorium Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang

3.2 Alat dan bahan
3.2.1 Alat
No . Nama Alat Kegunaan
1. Mikropipet Pengambilan media cair yang berukuran mikro/ sedikit sekali
2. Speader Membantu dalam penanaman kultur bakteri
3. Cawan petri Pembiakan kultur bakteri
4. Mikroskop Pengamatan bakteri
5. Tabung reaksi pembiakan kultur
6. Spatula Untuk meratakan marine yeast
7. Bunsen menciptakan daerah sterill
8. Jarum Ose Untuk mengambil bakteri di dalam cawan petri.

3.2.2 Bahan
No. Nama Bahan Kegunaan
1. Bakteri Laut Sebagai bahan untuk pengamatan.
2. Air Laut Steril Sebagai pengganti aquades untuk bakteri dari laut.
3. Marine Yeast Sebagai bahan untuk pengamatan.
4. Marine Fungi Sebagai bahan untuk pengamatan.
5. Larutan Mehilen blue Untuk member warna pada sampel bakteri.

3.3 Cara Kerja
3.3.1. Cara Kerja Uji Sensitivitas Bakteri
a. Siapkan amoxillin dengan berbagai konsentrasi (25 mikron, 50 mikron, dan 100 mikron)
b. Ambil media zobell pada cawan, lalu tanam dengan bakteri tersebut sebanyak 75 mikro liter
c. Lalu ratakan dengan teknik spread dengan menggunakan L-glasses
d. Diamkan sejenak agar meresap
e. Ambil amoxillin 25 mikron sebanyak 30 mikro liter, lalu tetesi ke atas paper disk
f. Lakukan dengan amoxillin berikutnya
g. Masukan ketiga paper disk ke dalam cawan yang sudah ditanam secara aseptis
h. Beri label dan siap di inkubasi
3.3.2. Cara Kerja Perhitungan Bakteri
a. Siapkan 9 tabung reaksi, dengan tabung I berisi bakteri 5 ml dan tabung II sampai tabung IX berisi media zobell 4,5 ml
b. Ambil 0,5 ml tiap tabung mulai dari tabung I lalu masukan ke tabung II dan seterusnya
c. Ketika proses pemasukan 0,5 ml ke masing-masing tabung diharapkan mikropipet di tekan-tekan berulang kali, agar larutan dapat homogen
d. Spread tabung II sampai tabung IX untuk langkah selanjutnya
e. Inkubasi dengan terbalik
f. Hitung koloni bakteri pada hari pertama dan kedua

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
4.1.1 Uji Sensitivitas Bakteri Hari Pertama

Gambar.1 hasil uji sensitifitas bakteri hari pertama
Pengukuran zona hambat hari pertama
Konsentrasi amoxillin Diagonal Horizontal Vertikal Rata-rata
25 0,941 – 0,89 = 0,51 0,881 – 0,89 =
­0,89 0,925 – 0,89 = 0,035 0,025
50 0,942 – 0,89 = 0,052 0,982 – 0,89 = 0,092 0,943 – 0,89 = 0,053 0,221
100 0,573 – 0,89 = 0,37 0,473 – 0,89 =
-0,453 0,563 – 0,89 =
-0,327 0,272
NB : Diameter paper disk = 0,89 cm

4.1.2 Uji Sensitivitas Bakteri Hari Kedua

Gambar.2 hasil uji sensitifitas bakteri hari kedua
Pengukuran zona hambat hari kedua
Konsentrasi amoxillin Diagonal Horizontal Vertikal Rata-rata
25 1,2 – 0,89 = 0,31 1,1 – 0,89 = 0,21 1,3 – 0,89 = 0,98 0,31
50 1,3 – 0,89 = 0,41 1,4 – 0,89 = 0,51 1,6 – 0,89 = 0,35 0,543
100 1,1 – 0,89 = 0,21 1 – 0,89 = 0,11 1,2 – 0,89 = 0,31 0,21
NB : Diameter paper disk = 0,89 cm

4.1.3 Perhitungan Bakteri 10-1

Gambar.3 hasil perhitungan bakteri hari pertama
Jumlah koloni bakteri 10-1 = 218

Gambar.4 hasil perhitungan bakteri hari kedua
Jumlah koloni bakteri 10-1 = 241
4.1.4 Data Koloni Preparat
Preparat Koloni Hari Pertama Koloni Hari ke Dua
- 1 218 341
- 3 315 483
- 5 217 321
- 7 176 203
- 9 98 156

4.1.5 Kadar Zona Hambat
Zona Hambat Hari Pertama Hari Kedua
Kadar 25 0,6 CM 0,8 CM
Kadar 50 0,8 CM 0,9 CM
Kadar 100 1 CM 1,3 CM

4.1.6 Perhitungan Mikroba Koloni Preparat
Preparat Jumblah Mikroba H+1 Jumblah Mikroba H+2
10-1 3 3
10-3 3 3
10-5 16 16
10-6 37 273
10-7 14 14

4.2. Pembahasan
4.2.1. Uji Sensitivitas
Dapat dilihat pertumbuhan bakteri belum begitu nampak pada pengamatan hari pertama. Dibanding dengan hari kedua, pertumbuhannya mikroba lebih nampak dan jumlah koloninya lebih banyak dibanding hari sebelumnya. Pada hari pertama, ukuran rata-rata zona hambat yang diperoleh dari diameter seluruhnya dikurangai dengan diameter paper disk, diperoleh hasil yang berbeda-beda dengan paper disk yang telah ditetesi dengan konsentrasi amoxillin yang masing-masing 25, 50 dan 100 mikron. Semakin besar konsentrasi amoxillin yang diberikan maka ukuran zona hambatnya semakin besar juga dan sebaliknya. Zona hambat adalah zona dimana menunjukan aktif dan resisten tidaknya suatu bakteri terhadap suatu senyawa atau zat. Dimana zona hambat merupakan senyawa metabolisme skunder yang dikeluarkan oleh bakteri untuk bertahan hidup. Berdasarkan hasil pengamatan semakin tinggi konsentrasi larutan amoxilin, semakin besar zona hambat yang terbentuk, sedangkan semakin kecil konsentrasi amoxillin, maka semakin kecil atau bahkan tidak ada zona hambat yang terbentuk. Diasumsikan bahwa pada konsentrasi yang terbentuk zona hambat bakterinya telah mati, dan pada konsentrasi yang tidak terbentuk zona hambat bakterinya tidak mati. Hal ini menunjukan bahwa bakteri sedang melawan larutan amoxillin untuk bertahan hidup, hal ini dilakukan dengan cara mengeluarkan senyawa metabolisme skunder bakteri tersebut. Semakin besar konsentrasi larutan amoxillin, zona yang terkena pengaruh dari larutan ini semakin kuat dan metabolisme skunder yang dikeluarkan pun semakin banyak yang menyebabkan pada konsentrasi 100 mikron atau konsentrasi tertinggilah zona hambat terbentuk lebih besar. Untuk uji sensitivitas hari kedua, rata-rata besar ukuran zona hambat semakin lebar, hal ini berarti bakteri lebih banyak menghasilkan metabolit sekunder lebih banyak dibanding pada hari pertama.
Ada atau terbentuk dan tidaknya zona hambat menunjukan kultur bakteri resisten atau tidak terhadap larutan amoxillin. Apabila zona hambat terbentuk maka bakteri tidak resisten terhadap larutan amoxillin dan bakteri tersebut tidak aktif. Dan apabila bakteri tidak membentuk zona hambat berarti bakteri resisten terhadap larutan amoxillin. Pada konsentrasi yang zona hambatnya belum terbentuk secara penuh (bening) menunjukan bahwa bakteri sedang melawan konsentrasi larutan amoxillin yang masuk. Dalam masa inkubasi yang lebih lama, dapat terjadi perubahan dalam kondisi tersebut, yaitu bisa menunjukan terbentuknya zona hambat secara penuh, atau tidak terbentuknya zona hambat dan namun pada umumnya bekas zona hambat terlihat. Hal tersebut tergantung dengan daya tahan bakteri terhadap larutan amoxillin.

4.2.2. Perhitungan Bakteri
cawan petri yang telah di sediakan untuk penanaman mikrobia laut dengan pengenceran air laut yang tinggi, jumlah bakteri yang ada berjumlah lebih sedikit sedangkan pada pengeneran yang rendah jumlah bakteri lebih melimpah. Hal ini dikarenakan pengenceran yang dilakukan menyebabkan pengurangan jumlah bakteri. Pada pengenceran dengan perbandingan yang lebih kecil koloni bakteri yang terbentuk lebih banyak dari pada dengan pengenceran yang lebih besar. Hal ini berarti semakin besar perbandingan pengenceran semakin sedikit bakteri yang tumbuh, dan semakin sedikit perbandingan pengenceran semakin banyak bakteri yang tumbuh. Menurut aplikasinya, yaitu bakteri pada pengenceran konsentrasi 10-2 sampai dengan tabung konsentrasi 10-9 semakin menuju ke tabung dengan konsentrasi 10-9 makakelimpahan bakterinya semakin sedikit. Pada tabung reaksi yang larutannya keruh menunjukan bahwa ada bakteri yang hidup di sana. Dan pada tabung reaksi yang bening diasumsikan tidak ada bakteri yang hidup di sana atau ada namun jumlahnya amat sedikit. Hal ini berarti semakin banyak perbandingan pengenceran yang dilakukan, bakteri yang tumbuh semakin sedikit dan semakin sedikit perbandingan pengenceran yang dilakukan, maka semakin banyak bakteri yang tumbuh. Pada perhitungan hari kedua, koloni bakteri pada cawan dengan konsentrasi 10-9 menunjukan pertambahan koloni bakteri tersebut. Hal ini dikarenakan adanya proses inokulasi terhadap media agar yang ada di dalam cawan.

BAB V
PENUTUP

Dari serangkaian acara praktikum ini yang telah melewati beberapa proses, maka dapat di tarik kesimpulan, Yaitu
4.1 Kesimpulan
5.1.1. Zona hambat adalah zona dimana menunjukan aktif dan resisten tidaknya suatu bakteri terhadap suatu senyawa atau zat. Dimana zona hambat merupakan senyawa metabolisme skunder yang dikeluarkan oleh bakteri untuk bertahan hidup.
5.1.2. Semakin tinggi konsentrasi larutan amoxillin, semakin besar zona hambat yang terbentuk, sedangkan semakin kecil konsentrasi larutan amoxillin, maka semakin kecil atau bahkan tidak ada zona hambat yang terbentuk.
5.1.3. Semakin rendah konsentrasi pengenceran, maka bakteri yang ada lebih sedikit dibanding dengan pengenceran yang masih berkonsentrasi tinggi.

4.2 Saran
Penentuan jadwal perhitungan bakteri pada hari kedua dimohon lebih pasti, dan diumumkan secara formal, sehingga praktikan dapat mengatur jadwalnya sehingga tidak bertabrakan dengan jadwal lainnya.Pada setiap kelompok per satu shift seharusnya dapat membagi data penghitungan jumblah

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D., Prof.,Dr. 1987. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan
Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan, Depdikbud Dikti Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB. Bogor : IPB – Press
Gaman, P. M., dan Sherrington, K. B. 1992. Ilmu Pangan : Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi, dan Mikrobiologi, Edisi Kedua. Yogyakarta : UGM – Press
Jawetz, G., Melnick, J. L., dan Adelberg, E. A. 1991. Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan. Jakarta : EGC
Volk, W. A., dan Wheeler, M. F. 1993. Mikrobiologi Dasar Jilid 1, Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Memperindah Kulit Dari Rumput Laut

Rumput Laut untuk Kosmetik

SELAMA ini, rumput laut lebih dikenal pemanfaatannya sebagai bahan

makanan seperti agar-agar untuk pembuatan puding. Padahal, bila diproses lebih lanjut dapat menghasilkan lebih dari 500 jenis produk komersial, mulai bahan makanan, obat-obatan, kosmetik, sarana kebersihan seperti pasta gigi dan sampo, kertas, pewarna tekstil, pelumas pada pengeboran sumur minyak. Pemanfaatan ruput laut di Indoensia sendiri sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1920. Tercatat ada 22 jenis rumput laut digunakan secara tradisional sebagai makanan maupun obat-obatan. Indonesia memiliki wilayah kepulauan dengan garis pantai yang sangat panjang. Di antaranya pantai landai dan dilindungi oleh selat atau teluk, laguna dengan perairan yang dangkal, berair tenang, bersuhu panas, dan sedikit hujan. Dengan faktor geografis demikian, Indonesia merupakan wilayah ideal untuk perkembangan pembudidayaan rumput laut. Terutama kawasan timur Indonesia merupakan daerah yang memiliki potensi rumput laut terbesar. Dari hasil studi yang pernah dilakukan pada tahun 1990-an diperoleh informasi, ada 61 jenis dari 27 marga telah teridentifikasi dan tumbuh di perairan Indonesia. Diketahui juga rumput laut sudah lama dan terbiasa dijadikan makanan dan obat oleh masyarakat di wilayah pesisir. Namun, belum ada upaya pengembangan lebih lanjut pada produk lain yang punya nilai ekonomis lebih tinggi. Dalam Ekspedisi Sibolga yang dilakukan pada zaman Belanda pernah ditemukan 555 jenis rumput laut di perairan Indonesia. Saat itu, diketahui 56 jenis di antaranya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan makanan ternak hingga bahan baku industri. Jenis yang memiliki nilai ekonomis umumnya termasuk dalam suku

Rhodophyceae (alga merah), antara lain marga Glacilaria, Gelidium,

Hypne, Eucheuma, dan Gelidiopsis. Walaupun memiliki beragam jenis rumput laut, Indonesia belum banyak memanfaatkan potensinya yang begitu besar. Selama ini yang dimanfaatkan hanyalah Eucheuma (E spinosum dan E cottonii),

Glacilaria, dan Sargassum. Itu pun dilakukan dengan cara

mengambilnya dari alam. Hal ini bila dibiarkan dapat mengancam

kelestarian spesies rumput laut itu dan merusak ekosistem perairan.

Adapun komponen yang digunakan dari rumput adalah karaguan yang

dihasilkan dari alga merah digunakan untuk pembentuk gel, penstabil

produk makanan, dan kosmetik. Alginat yang dihasilkan dari alga

cokelat digunakan sebagai pengental, penstabil, dan membuat

makanan lebih creamy. Beta karoten yang dihasilkan dari alga hijau

digunakan sebagai pewarna makanan kuning atau oranye.

 

Gel unik

Produk agar-agar memiliki suatu karakteristik yang unik karena

memiliki daya ikat air. Kemampuan itu belum bisa disamakan dengan

produk karagenan atau jeli. Rumput laut Red algae (Gellidium,

Gracilaria, Gellidiella, Pterocladia) merupakan bahan baku pembuat

agar-agar. Sejak berabad-abad silam agar-agar dimanfaatkan sebagai

bagian komposisi dari makanan, minuman, dan pengobatan. Seiring

dengan perkembangan, penggunannya semakin luas di antaranya

sebagai pembuat gel, stabilizer, pengental, bahan tambahan dalam

industri farmasi, dan media kultur bakteri.

Saat ini, tepung agar-agar masih diimpor dari luar negeri karena

standar kualitas produksi dalam negeri belum stabil. Hal ini antara lain

karena pembudidayaan belum banyak, panen yang belum pada

waktunya, serta pengontrolan kualitas yang belum mantap.

Kualitas merupakan persoalan utama yang menyebabkan kebutuhan

dalam negeri belum bisa terpenuhi. Salah satu yag menyebabkan

kualitas rumput laut turun adalah kadar air yang tidak memenuhi

standar sekira 35%. Umumnya, petani rumput laut –karena terdesak

kebutuhan ekonomi– menjual hasil panennya dengan kadar air masih

40-45%. Akibatnya, harga jual menjadi turun. Ketika rumput laut

dikeringkan dan diolah oleh negara lain harganya menjadi berkali lipat.

Untuk itu, masih perlu dilakukan sosialisasi dan perbaikan kualitas

rumput laut demi meningkatkan potensi rumput laut berdaya jual

tinggi.

Metabolit primer yang umumnya merupakan senyawa polisakarida dan

bersifat hidrokoloid seperti karagenan, agar, alginat dan furcelaran

digunakan sebagai senyawa aditif dalam industri farmasi dengan

berbagai fungsi. Fungsinya meliputi pemberi suspensi, pengemulsi,

dan pengental.

Metabolit primer lainnya seperti asam-asam amino oleh para ilmuwan

dijadikan dasar sebagai sumber gizi. Metabolit sekunder yang

merupakan senyawa bioaktif dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai

obat.

 

Bahan kosmetik alami

Rumput laut dikenal pertama kali oleh bangsa Cina kira-kira 2700 SM,

digunakan untuk sayuran dan obat-obatan. Tahun 65 SM, bangsa

Romawi menggunakannya sebagai bahan baku kosmetik.

Beberapa jenis yang digunakan misalnya sebagai kosmetik tradisional

seperti masker, lotion penyegar, dan pengobatan stroke adalah Ulva

lactuca, Enteromorpha profera dan Sargassum spp. Untuk kosmetik,

secara khusus menggunakan rumput laut cokelat yang mengandung

alginat. Terdiri atas manuronat dan gluronat. Manuronat banyak

digunakan sebagai bahan baku kosmetik lainnya.

Ektrak koloid dari rumput laut (alginat, agar, dan karagenan)

menunjukkan sifat kompabilitas tinggi (mampu disatukan dengan

bahan-bahan lain) dalam sedium kosmetik. Ekstrak ini memberikan

rasa lembut di kulit dan tekstur kulit yang diinginkan. Sebagai

pembentuk emulsi, stabilizer, zat pensuspensi, dan pengental

digunakan untuk emulsi dan gel dalam konsentrasi kecil antara 1-5%.

Sifatnya dapat dicuci dan membentuk film.

Rumput laut mengandung berbagai vitamin dalam konsentrasi tinggi

seperti vitamin D, K, Karotenoid (prekursor vitamin A), vitamin B

kompleks dan tokoferol. Kandungan polisakarida yang tinggi dan

sebanding dengan glukan (polimer glukosa) dan polisakarida tersulfasi

menunjukkan kerja melembabkan dan kerja higroskopik. Begitu

kayanya kandungan rumput laut, sehingga dimanfatkan dalam

kosmetik untuk menormalkan tegangan kulit, epitelisasi kulit, dan

memberi nutrisi pada kulit.

Pembuatan produk-produk yang mengandung ektrak rumput laut

ditujukan untuk memperlambat proses penuaan kulit

(antiwrinkle/antiaging), yang terdiri dari produk-produk perawatan

kulit dan pembersih tubuh. Rumput laut dapat digunakan pada produkproduk

seperti berbagai macam krem untuk kulit, masker, lotion dan

sunscreen. Konsentrasi yang digunakan bervariasi antara 1 hingga

3%.

Khasiat biologi dan kimiawi senyawa alginat juga dimanfaatkan pada

pembuatan obat antibakteri, antitumor, penurun tekanan darah tinggi,

dan mengatasi gangguan kelenjar. Hal itu karena unsur-unsur mineral

yang terkandung di dalamnya seperti iodium, seng, dan selenium.

Unsur seng dan selenium diketahui dapat mencegah kanker.

Kandungan seng dalam rumput laut diperkirakan 100 kali lebih tinggi

dibandingkan yang ditemukan pada air laut.

Karagenan alga merah digunakan sebagai pasta gigi karena

fiskositasnya tinggi dan strukturnya lebih lentur dan lembut.

Hidrokoloid rumput laut jenis ini memiliki kemampuan yang unik dalam

membentuk gel yang bertekstur pendek sesuai untuk pasta gigi.

Penggunaan karaginan ini sekarang mulai menggeser bahan baku

xanthangum untuk pasta gigi. Agar-agar selain sebagai bahan

makanan yang sudah banyak dikenal, juga digunakan untuk kosmetik

karena mengandung zat pengemulsi yang baik.

Bila melihat sifat-sifat fisika-kimia hidrokoloid rumput laut yang

tersusun dari senyawa polisakkarida itu masih banyak lagi

kemungkinan aplikasi baru yang lebih luas seperti cairan pembersih,

pelapisan keramik, dan produk bertekanan, serta kertas. Pemanfaatan

lain adalah pada kertas printer atau mesin pencetak, juga pada tekstil

maupun karpet.

Keduanya membutuhkan bahan pasta yang mudah dituangkan, tetapi

dapat terkontrol dengan baik untuk mendapatkan tingkat penetrasi

yang baik. Sifat thixotropic dari hidrokolid rumput laut membuatnya

cocok untuk tujuan ini.

Saat ini, di pasaran banyak beredar kosmetik yang mengandung bahan

baku utama dari alam. Tidak ada efek samping dan klaim aman bagi

kulit, bahkan kulit sensitif sekalipun. Dari formula tradisional kemudian

dikembangkan dan diproses secara modern sehingga memenuhi

kualitas standar produk.

Meningkatnya kebutuhan akan produk-produk kosmetik dari bahan

alami memberikan peluang bagi potensi penggunaan rumput laut.

Dengan begitu, rumput laut dapat dikembangkan untuk dijadikan

bahan dasar kosmetik.

Para ahli kosmetik dan kecantikan sepakat rumput laut dan ekstrak

rumput laut baik untuk perawatan kulit. Alginat, karagenan, dan agar

memiliki zat-zat yang memberikan efek bermanfaat bagi kulit. Di

Irlandia bahkan diproduksi tepung rumput laut yang umumnya dibuat

dari Ascophyllum nodusum untuk perawatan tubuh dan algoterapi.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment